AL-INSAN AL-KAMIL
Karya: Abdul Karim Al-jilli
Oleh : Prof. Dr. Yunassril Ali, MA
Motivasi
penulisan
Nama
lengkap kitab ini adalah al-insan al-kamil fi ma’rifati al-awakhiri wal awali.
Karya ini terdiri atas 2 uz dan diterbikan dalam 1 jilid. Karyya ini ditulis
oleh Abdulkarim Al-jilli dengan nama lengkap Abdulkarim ibn kholiah ibn Ahmad ibn Mahmud Al-jilli. Ia
mendapat gelar kehormatan “syaikh” yang biasa di pakai di awal namanya. Dan
gelar “Quthb al-din” (poros agama) gelar
tertinggi di hirarki sufi.
Judul
utama kitab inio tertulis Al-Insan Al-kamil : fi ma’riffatil Awakhir wal awail,
mengandung makna pengenalan terhadap al-awakhir, yaitu makhluk-makhluk tuhan
berupa benda-benda fisikal yang muncul
pada tataran akhir dalam proses tajalli (penampilan diri) Tuhan, dan
tuhan sendiri yang disebut al-awwal; al-awail adalah bentuk jama’, ditulis
dalam bentuk jama’ untuk melukiskan tentang tuhan dan juga martabatr-martabat
yang ada dalam proses tajalli-Nya. Jadi, penulisan Al-insan al-kamil
dimaksudkan sebagai panduan dalam mengenal tuhan dengan tajalli-Nya melalui
makhluk-makhluknya yang merupakan bagian akhir dari tajallinya itu.
Sumber dan
tokoh yang terpengaruh
Guru-guru
yang berjasa dalam mengasuhnya antara lain : Al-faqih al-‘arif jamaluddin
muhammad binIsmail al-mukaddasi (789 H), Syikh Abu Bakar Muhammad al-hakkak,
Abu al-ghayts bin jamil (651 H). Dalam mendampingi gurunya itu ia ditemani
teman dekatnya, syihab ad-diin Ahmad ar-Raad (821 H) dan muhammad al-mijazi (829 H). Al-jilli
pernah menulis syarh (komentar) terhadap buku karangan ibnu arabi yaitu
al-futuhat al-makiyyah yang diberi judul Syarh Musyikat al-futuhat al-makiyyah.
Dari semua buku yang sudah banyak dibacanya ia memiliki wawasan yang cukup luas
dalam berbagai bidang keilmuann islam. Walaupun demikian, ia tetap kritis dalam
menerima berbagai pemikiran dan gagasan para pendahulunya. Selain ilmu
keagamaan ia juga mendalami ilmu-ilmu umum, seperti fisika, kimia, biologi,,
zoology, bontani, ilmu kedokteran
klasik, astronomi, ilmu al-hurf wal asma, kimia, sihir dan
manteraa-mantera.
Namun
pengaruh dari Ibnu arabi lebih dominan
dalam insan al-kamil al-jilli, karena
isstilah al-kamil itu sendiri awalnya digunakan oleh ibnu arabi.
Sementara peranan al-jilli lebih berkembang secara sitematis, terperinci, dan
komprehensif. Ajaran insan al-kamil lebih populer dan mudah dicerna, karena ia
menggunakan kata-kata dengan bahasa yang jelas, dan bahasa yang lebih simbolis dalam satu karya yang mandiri dengan
kemasan pada tempat-tempat tertentu.
Karakteristik
Al-Insan
alkamil adalah buku yang membahas tentang ketuhanan. Dari berbagai bab yang
disajikan hanya satu yang fokus pada
konsep manusia paripurna yaitu bab ke 60. Kaum sufi membagi tingkat kasufian
kepada 3 tingkat
1.
Mubtadi,
orang yang baru memasuki pelatihan
sufisti.
2.
Mutawasith,
orang yang telah mendapatkan pengalaman kesufian.
3.
Munyahi,
orang yang telah merasakan kesufian.
Semua konsep ketuhanan dalam karya ini sejatinya terkait dengan
kemunculan insan kamil. Puncaknya ketika ia muncul sebagai mikrokosmos Yng
menjadi miniatur alam semesta. Pada sisi lain ia adalah puncak pencapaian
perjalanan manusia menuju tuhan, yang enginfestasikan sifat-sifat dan asma tuhan yang paripurna.
Daalam upaya menjelaskan makna manusia secara paripurna, ia berusaha mengeksploitasi filsafat
sufistiknya yang sangat mendalam. Karya ini jadi terlihat unik karena di
dukung oleh jalinan argumen-argumen ‘aqliyyah dan pengalaman bathiniyyah.
Keunikan lainnya adalah bahasa yang digunakan oleh beliau dengan jelas dalam
menuangkan fikiran, perasaan, dan pengalamannya.
Penyebaran
Tersebarnya
kitab ini adalah saat pengembaraan beliau keberbagai wilayah yang telah
dikunjungi. Karena banyaknya orang yang menyalin buku itu sehinmgga penyebaran
pun begitu pesat. Karya ini juga banyak dicatak oleh Maktabah shabih, dikairo,
Musthafa babi alhalabi dan Dar al-fikr.
Penyebaran
selanjutnya berjalan melalui syarh-syarh yangdkerjakan oleh para cendikiawan
daan ulama yang menggandrunginya diantarnya
1.
Mudhihat
al-hal fi ba-dhMas’mual Dajjal oleh Ahmad bin muhammad almadani (1071-1660)
2.
Kasyf
al-bayan ‘an asrar al-adyan fi kitabil
insan al-kkamil wakamil insan oleh abdul
ghoni al-nasbulsi (1143 H).
3.
Syarh
oleh zadh abdul baqi (1157).
4.
Syarh
oleh syaikh Ali bin Hijazi al-bayumi (1183 H).
Pengaruh
Pengaru yang sifnifikan dalam dunia sufisme, buku ini muncul
dikalangan para sufi dan pelajar pada umunya. Pengaruh kitab ini pertama kali terlihat pada sejumlah syarh yang dibuat oleh para sufi sesudahnya. Dan
pengaruh lainnya adaalah padaa pengembangan ajaran tersebut dalam bentuk yang
lebih luas dan sistematis, seperti yang dilakukan oleh Muhammad ibnu fadhl
Allah akl-burhanfuri (1030/1620 ) eleui karynya At-Tuhfat al-mursalah.
Pengembangan yang lebih luas adalah pada Amir Abdul Qodir Aljaziri dalam
karyanya al-mawaqif ar-ruhiyyah wal fuyudhat ash-shubuhiyyah terdiri dari dua
jilid. Karya kesufian ini juga yang mengembangkan ajaran Wahdatul wujud.Ibnu
Arabi yang merintis doktrin wahdatul wujud, daan aljilli yang mengembangkannya
secara kritis melalui insan al-kamil
dengan begitu ajaran ini semakin dipahami oleh kalangan pelajar. Hingga sampai
sekarang ajaran ini makin populer.
Semua karya aljilli dikembangkan
oleh para sufi terutama kitab ini secara luas seperti yang dikembangkan oleh
para sufi sesudahnya.
Posisi
Kajian tentang manusia paripurna
sudah sangat tua usianya, melebihi usia tasawuf sendiri. Dalam sejarah tasawuf,
kajian tentang insan parinpura mengacu kepada isyarat ayat. (Q.s al kahfi :
65-82) tentang “ hamba yang saleh,” di definisikan sebagai nabi khidir.
Karekter “hamba yang saleh” itu, kemudian dikenakan kepada seorang saleh yang
hidup dimasa nabi saw, namun tidak bertemu dengan nabi yang memiliki
pengetahuan ketuhanana yang melebihi umar dan Ali.
Konsep manusia paripurna yang lebih
unik ditampilkan oleh hallaj dengan ajaran tentang al Haqiqah al-Muhammadiyah
(hakikat realitas muhammad atau populer dengan nur Muhamad). Dalam ajaran ini
manusia paripurna adalah manusia yang paling cemerlang, karena pada dirinya Nur
Muhammad menitis, sehingga denagn cahaya demikian ia mengetahui rahasia yang
ghoib dan sekailigus paling dekat kepada tuhan.
Konsep lain yang muncul sekitar
manusia paripurna ini adalah dari al-Suhrawardi al-Maqtul (w.587/1190), yang
menampilkan manusia idealnya dengan sebutan al-Hakim al-muta’allih (orang bijak
yang berketuhan) . menurutnya ada tiga klasifikasi manusia sempurna.
1.
Orang
yang menjalani kajian filosofis, tetapi tidak memahami masalah keruhanian,
seperti Aristoteles, al-Farabi, dan ibn sina.
2.
Orang
yang mendalami kajian keruhanian, tetaoi tetapi tidak memahami kajian filosofis
seperti al-Busthami, al-Tustari, al-Hallaj.
3.
Orang
yang medalami keduanya dialah al-Hakim al-Muta’allih yang menjadi pemimpin
segenap alam. Dan yang telah mencapai peringkat itu adalah al-Suhrawardi.
Ajaran
sentral
Pemahaman
tentang ajaran sentral kitab al-insan al kamil tidak serta merta dapat kita
tangkap tanpa memehami ajaran dasar tasawuf. Pada dasarnya tasawuf mengajar
pendekatan diri (ruhani) kepada tuhan. Ini di dasarkan postulat bahwa “Alloh itu
mahasuci, Dia tidak dapat didekati melainkan oleh yang suci pula.” Oleh karena
itu sufi/calon sufi berupaya mendekatkan diri (taqorub) kepada tuhan melalui
penyucian hati. Penyucian hati ini di lakukan
melalui amal-amal ibadah (tasawuf ubadi) dan peningkatan kualitas
kepribadian dan tingkah laku (tasawuf akhlaqi). Kedua tasawuf ini di sebut
tashawuf amali (tasawuf praktis). Dan upaya pendekatan diri ini biasa di sebut
peoses taraqqi (pendakian)
Kajian
inilah yang menjadi inti kajian tasawuf falsafi (tasawuf filsafais) atau taawuf
nazhari (tasawuf teoritis) proses panjang yang bersifat ilahiah itulah yang
menjadi ajaran sentral kitab al insan al kamil. Kitab ini di mulai dari kajian
tentang Tuhan sebagai Zat yang transendent. Kemudian, ia ingin melihat dari-Nya
diluar diri-Nya maka untuk merelisasi iradahnya iyu menampakkan diri nya
melalui alam semesta. Proses penampakan ini di sebutproses tanazul atau populer
dalam tasawuf falsafai dengan istilah tajali’ kajian inilah mendominasi kitab
hampir 90%. Di samping itu, sedikit dibicarakan pula tentang proses tariqqi,
melalui perjalanan ruhani menuju tuhan melalui penelusuran kembali proses
tanazul ilahi menuju tariqi hamba dalam taqarubnya kepada allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar